Propinsi Aceh merupakan suatu propinsi yang dikelilingi laut dengan jumlah penduduk 4.032.890 jiwa ( tahun 2010 ) dan luas daerah 57.365.57 km². Aceh terdiri dari 21 kabupaten, 17 Kab/kota berada di wilayah pesisir, ditambah 2 kabupaten baru. Luas perairan lautnya 395.370 km². dengan 119 pulau yang panjang garis pantai 1.660 km². Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka, selatan berbatasan dengan propinsi Sumatera Utara ( Medan ), timur berbatasan dengan selat malaka, dan barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.
Salah satu desa yang terdapat di Aceh adalah Desa Puuk Samudera, Desa Puuk merupakan salah satu desa yang masih terisolir dan merupakan salah satu daerah yang mempunyai produksi penangkapan perikanan yang tinggi. Desa Puuk merupakan salah satu daerah yang berpeluang, dimana daerah tersebut memiliki potensi perikanan yang bagus. Dilihat dari hasil perikanan dari ikan teri sampai ikan tuna, disebelah selatan berbatasan mempunyai pulai daerah yang estuaria yang banyak menghasilkan jenis Crustacea dan Echinodermata. Sedangkan disebelahan barat terdapat daerah delta, laguna serta struktur tanah yang baik digunakan untuk tambak/waduk dan sangat cocok untuk penanaman tumbuhan bakau atau mangrove. Oleh karena itu penulis tertarik melaksanakan praktek umum Di desa Puuk Kecamatan Samudera.
1.2 Tujuan Praktek Umum
Tujuan dari pelaksanaan praktek umum ini adalah untuk melihat dan mengetahui secara langsung kondisi umum perikanan dan kelautan yang meliputi keadaan sosial masyarakat nelayan, ekonomi dan pendidikan masyarakat. Keadaan budidaya serta kegiatan-kegiatan lainnya dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat di Desa Puuk Samudera.
1.3 Manfaat Praktek Umum
Manfaat Praktek Umum adalah untuk untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta pengalaman dalam kegiatan perikanan disuatu daerah dengan mengamati dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.
Bagi universitas dan jurusan budidaya erairan khususnya diharapkan praktek umum ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi perikanan dan kelautan di daerah yang bersangkutan untuk penelitian lanjutan.
Adapun bagi pemerintah praktek umum diharapakan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pembangunan kelautan dan perikanan. Serta menjadi bahan pertimbangan untuk membuat kebijakan dan peraturan dalam pembangunan perikanan dan kelautan yang akan mendatang nantinya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sumberdaya Perikanan
Perikanan adalah suatu usaha manusia untuk dapat memanfaatkan sumberdaya hayati perairan untuk memperoleh hasil yang baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sumber daya perikanan dan kelautan merupakan sumber daya yang relatif kompleks. Dalam hal lingkungan pengelolaan pun sangat berbeda dari sumber daya terestial lainnya, misalnya pertanian dan perkebunan. Dari sisi sumber daya, stok sumber daya ikan, misalnya, bermigrasi dan bergerak dalam ruang tiga dimensi. Kondisi ini menambah kompleksitas dalam pengelolan, misalnya saja menyangkut pengaturan hak pemilikan atas sumber daya tersebut ( Malik,1988 ).
Menurut Dahuri, ( 1993 ). Dimensi kompleksitas dalam pengelolaan sumber daya perikanan juga ditandai dengan tingginya tingkat ketidakpastian ( Uncertainty ) dan risiko pengelolaan yang ditimbulkan. Jumlah stok ikan, misalnya, tidak pasti ( sulit diketahui ). Selain itu, tidak ada input yang digunakan, seperti halnya pakan dalam budidaya, untuk mengendalikan pertumbuhan ikan. Pengetahuan tentang pertumbuhan ikan, migrasi, dan mortalitas sangat fragmentary. Karena berbagai fitur di atas, berbagai model untuk sumber daya perikanan kelautan telah dikembangkan sejak lima puluh tahun yang lalu. Dan karena kompleksitas itu pulalah jawaban atas permasalahan dalam pengelolaan sumber daya perikanan harus didekati dengan pemodelan.
Dalam beberapa kasus, kesulitan dalam hal penyediaan data menyebabkan model yang dikembangkan untuk perikanan dan kelautan sering bersifat kualitatif ketimbang kuantitatif. Namun, belakangan ini, dengan perkembangan teknologi komputasi, pemodelan kuantitatif untuk sumber daya perikanan dan kelautan semakin pesat dan bervariasi. Salah satu model yang paling umum digunakan dan mengalami pengembangan terus-menerus adalah pemodelan bioekonomi melalui model optimal control berbasis prinsip maksimum. Pengembangan model bioekonomi ini merupakan konsekuensi logis dari sifat sumber daya perikanan kelautan yang harus didekati dari sisi biologi dan sisi ekonomi.
Sektor perikanan memang unik, beberapa karakteristik yang melekat didalamnya tidak dimiliki sektor-sektor yang lain seperti sektor pertanian,maupun kehutanan. Sifatnya yang open access dapat menyebabkan proses perusakan sumberdaya tersebut semakin cepat, tatkala tidak ada perlindungan berupa undang-undang dari pemerintah. Sehingga tidaklah mengherankan dalam penanganan masalah perikanan memiliki pendekatan tersendiri. Selain berhadapan dengan dengan sumber daya yang bergerak terus ( Fluktuatif ) dan kompleksitas biologi dan fisik perairan, Sumber daya perikanan juga dihadapkan dengan masalah hak kepemilikan dalam pengelolaan. Sehingga interaksi faktor inilah yang kemudian memicu berbagai masalah dalam sektor perikanan dan kelautan.
Sejak 200 tahun yang lalu sudah disadari bahwa pengembangan yang pesat dalam teknologi penangkapan tidak saja membawa dampak positif berupa peningkatan produksi ikan secara global, namun juga menurunnya beberapa stok ikan di berbagai perairan. Sejalan dari masalah ini berbagai penelitian dilakukan menyangkut akar masalah perikanan yang disebut dengan thompson-burkenroad debate. Thompson menyakini bahwa menurunnya stok sumber daya perikanan disebabkan oleh penangkapan yang berlebihan sehingga pemulihan stok dapat dilakukan manakala tekanan terhadap sumberdaya dikurangi. M.D Burkenroad disisi lain menyakini bahwa penurunan stok ikan lebih disebabkan oleh faktor alamiah.
Bukti-bukti alamiah kemudian menunjukan kebenaran argumen Thompson. Masalah utama krisis perikanan adalah tidak terkendalinya intervensi manusia dalam mengelola sumber daya perikanan. Dan yang menjadi perdebatan yang sengit sampai sekarang adalah seberapa besar jumlah tangkapan yang boleh ditangkap agar proses pembangun perikanan yang berkelanjutan dapat terlaksana. Kemajuan teknologi dalam bidang penangkapan pada satu sisi memang memberikan keuntungan dalam memanfaatkan potensi yang ada, namun pada sisi lain kemajuan teknologi tersebut dapat menimbulkan masalah baru berupa terjadinya kelangkaan akan sumber daya tersebut. Konsep MSY ( Maximum Sustainable Yield ) yang diterapkan pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya perikanan, dimana ketersedian sumberdaya diukur berdasarkan kemampuannya untuk menyediakan kebutuhan bagi generasi kini dan juga generasi mendatang. Namun tatkala tidak dilengkapi keakuaratan data yang tepat dalam jumlah hasil tangkapan konsep tersebut tidak akan berjalan dengan maximal. Sehingga dibutuhkan kerja sama dari semua pihak baik itu nelayan dan aperatur pemerintah untuk melaporkan dan mencatat seberapa besar hasil tangkapan, agar terlihat berhasil tidaknya konsep MSY ( Maximum Sustainable Yield ) dapat diketahui.
Salah satu faktor lain yang perlu diperhatikan adalah Perkembangan peradaban dan pertumbuhan penduduk dunia yang dapat menyebabkan pengelolaan sumberdaya pun semakin kompleks. Dalam perspektif malthus, sumberdaya yang terbatas tidak akan mampu mendukung pertumbuhan penduduk yang cenderung tumbuh secara eksponensial. Sehingga sumberdaya harus dimanfaatkan secara hati-hati karena adanya faktor ketidakpastian terhadap apa yang akan terjadi terhadap sumberdaya tersebut di masa mendatang. Berangakat dari pandangan ini untuk mencegah kelangkaan sumberdaya perikanan akibat lonjakan pertumbuhan penduduk,pengembangan sektor budidaya perikanan, dan bioteknologi harus dikembangkan. Dan termasuk didalamnya adalah pendugaan stok, penilaian terhadap stok, dan bagaiman kita menanganai input yang digunakan dalam mengeksrasi sumberdaya ( kapital, nelayan, dan sebagainya ). Sehingga pada akhirnya, dengan pengelolan dan menajemen yang terpadu sektor perikanan dan kelautan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan nasional ( Pariwono, 1992 ).
2.2 Sumberdaya Perairan
Pantai Indonesian adalah merupakan pantai terpanjang kedua setelah Canada dan banyak pulau-pulau kecil yang indah serta kondisi iklim tropis dimana matahari bersinar sepanjang hari. Potensi kelautan Indonesia yang beragam seperti banyaknya ikan hias, terumbu karang dan mangrove yang terluas di dunia merupakan modal dasar yang sangat besar bagi pengembangan pariwisata bahari. Masyarakat pantai adalah masyarakat yang menempati wilayah kawasan pantai. Wilayah pantai merupakan daerah dimana terjadi interaksi antara tiga unsur utama yaitu dataran, lauatan, dan atmosfir ( Dahuri 2001 ).
Ekosistem laut dapat dipandang dari dimensi horizontal dan vertikal. Secara horizontal laut dapat dibagi menjadi dua yaitu pesisir yang memiliki daerah paparan benua dan laut lepas. Pemintakatan laut secara vertikal dilakukan berdasarkan intensitas cahaya yang memasuki kolom peraiarn, yaitu zona fotik dan afotik. Dimana wilayah pesisir merupakan bagian dari zona fotik yang sangat produktif (Nybakken,1982 ).
2.3 Penangkapan
Samsul Hadi ( 2011 ), Mengatakan bahwa geografis Desa Puuk Kecamatan Samudera dipengaruhi oleh tiga musim yaitu, musim barat, musim timur dan musim peralihan. Ketiga musim tersebut sangat terpengaruh pada musim barat. Keadaan dan kondisi perikanan dan kelautan berubah seperti biasanya seperti pada musim timur dan peralihan. Kondisi dan keadaan musim barat dipengaruhi oleh gelombang-gelombang besar dan tinggi sampai 3 meter hingga sampai 8 meter di laut Desa Puuk Kecamatan Samudera. Pada musim timur kondisi geografis Desa Puuk Kecamatan Samudera dipengaruhi oleh hujan dan angin serta tekanan air yang cepat serta terjadi pasang tak beraturan seperti biasanya pada musim biasanya pada musim peralihan kondisi perikanan dan kelautan dipenuhi oleh berbagai hasil perikanan dari jenis udang hingga ikan yang berpotensi tinggi, seperti dari jenis udang putih hingga sampai dengan jenis ikan tuna.
Selain dalam rangka pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan demi kebutuhan masyarakat akan ikan dan sumberdaya laut lainnya. Usaha perikanana juga dimaksud untuk meningkatan pendapatan nelayan dan petani ikan yang berkehidupan dapat bermanfaat sumberdaya perikanan dan kelautan. Dimana pada umumnya nelayan dan petani ikan merupakan masyarakat pesisir. Evy ( 1997 ), Mengatakan bahwa pembangunan perikanan yang dilaksanakan dalam tiga tahapan pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nelayan dan petani, meningkatkan produksi dan produktifitas dalam pengembangan agribisnis, meningkatkan konsumsi ikan sebagai kebutuhan dan pangan, protein dengan jalan memasyarakatkan pengkonsumsian ikan, meningkatkan ekspor dengan mengurangi impor hasil perikanan melalui pengendalian dan pengawasan, dan memperluas kesempatan kerja.
2.4 Budidaya
Budidaya adalah suatu usaha manusia untuk memanfaatkan sumberdaya hayati untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan juga menghasilkan hasil pemeliharaan dengan memenuhi target yang telah ditentukan ( Dahuri et al. 2001 ).
2.5 Pasca Panen
Suatu hasil dari pemeliharaan ( Input = Output ) untuk dipasarkan dan melakukan pemanfaatan penjualan ke berbagai pedagang untuk memperoleh keuntungan yang disesuaikan ( Dahuri et al. 2001 ).
.
III. METODE PRAKTEK
3.1 Waktu Dan Tempat
Praktek umum ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juni sampai 3 Juli 2011 selama satu bulan di Desa Puuk Kecamatan Samudera Aceh Utara.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktek umum ini adalah buku dan alat tulis, dan digital foto.
3.3 Metode Praktek
Metode yang digunakan dalam praktek ini adalah metode survei yaitu pengamatan langsung dan wawancara kepada responden yang terlibat dalam usaha perikanan di Desa Puuk Kecamatan Samudera.
Data yang akan diperoleh meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan dan wawancara langsung dengan menggunakan lembar kuisioner yang sudah disediakan untuk nelayan penangkapan di daerah tersebut.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari Kantor Lurah Desa Puuk Kecamatan Samudera meliputi data jenis kelamin dan usia, jumlah penduduk menurut mata pencaharian, jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan, penduduk menurut agama dan etnis, jumlah dan alat tangkap yang digunakan nelayan serta jumlah dan jenis nelayan.
3.4 Prosedur Praktek
Penentuan lokasi praktek umum dilakukan dengan cara melihat data-data Desa Puuk Kecamatan Samudera, yaitu melalui kepala kantor Desa Puuk Kecamatan Samudera. Pengambilan data yang dilakukan di desa puuk kecamatan samudera dengan melakukan wawancara langsung dengan para nelayan dan penduduk desa tersebut.
3.3 Analisis Data
Data primer dan data sekunder yang diperlukan akan disajikan dalam bentuk tabel.data tersebut selanjutnya akan di analisis secara deskriftif untuk dapat di tarik kesimpulan dan dapat ditentukan alternatif - alternatif pemecah masalahnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Ketinggian Tempat
Desa Puuk Kecamatan Samudera mempunyai ketinggian tempat sangat minim sekali bila dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Terutama terpengaruh pada saat terjadi pasang purnama dan pasang perbani.
4.2 Batas Wilayah
Desa Puuk Kecamatan Samudera mempunyai batas-batas wilayah yaitu:
Tabel 1. Batas Wilayah Desa Puuk Kecamatan Samudera
No Arah Mata Angin Batas Wilayah
1. Utara Laut
2. Selatan Desa lancang
3. Barat Sungai
4. Timur Desa sawang
Sumber : Monografi Desa
4.3 Demografi Dan Kependudukan
Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan jumlah keadaan penduduk 868 jiwa, yang terdiri dari 428 jiwa laki-laki dan 440 jiwa perempuan dengan jumlah kepala 204 KK.
Tabel 2. Jumlah Penduduk Desa Puuk Kecamatan Samudera
No. Jenis kelamin Jumlah ( Jiwa )
Persentase ( %)
1. Laki-laki 428 38 %
2. Perempuan 440 62 %
Jumlah 868 100 %
Sumber: Kantor Kepala Desa Puuk Kecamatan Samudera
Dilihat dari tabel diatas dapat diketahui bahwa di Desa Puuk Kecamatan Samudera lebih banyak penduduk perempuan dibandingkan laki-laki.
4.4 Pendidikan
Taraf pendidikan masyarakat di Desa Puuk Kecamatan Samudera lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah lain, hal ini disebabkan karena rendahnya taraf ekonomi masyarakat desa ini.
Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Desa Puuk Kecamatan Samudera Pada Tahun 2010 :
No. Tingkat dan tamatan Jumlah jiwa
1. Putus sekolah 54 Jiwa
2. Belum sekolah 30 Jiwa
3. SD 19 Jiwa
4. SMP 11 Jiwa
5. SMA 51 Jiwa
6. Perguruan tinggi
7. pengangguran 39 Jiwa
Jumlah 208 Jiwa
Sumber: Kantor Kepala Desa Puuk Kecamatan Samudera
Dilihat dari tabel diatas dapat diketahui bahwa di Desa Puuk Kecamatan Samudera mempunyai tingkat pendidikan yang masih rendah.
4.5 Mata Pencaharian
Masyarakat di Desa Puuk Kecamatan Samudera mayoritas mata pencaharian di bidang perikanan, hal ini dapat di lihat jelas pada tabel berikut :
Tabel 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pencaharian Desa Puuk Kecamatan Samudera pada tahun 2010 :
No. Pekerjaan Jumlah ( Jiwa ) Presentase ( %)
1.
2. Nelayan
PNS 110
2 45 %
1 %
3. pedagang 5 14 %
4. Guru 3 10 %
5. kuli 72 30 %
Jumlah 192 100 %
Sumber: Kantor Kepala Desa Puuk Kecamatan Samudera
Masyarakat di Desa Puuk Kecamatan Samudera mayoritas mata pencaharian di bidang perikanan, karena sebagian daerahnya sudah menjadi pemanfaatan sejak dulu secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat desa tersebut. Dan Masyarakat di Desa Puuk Kecamatan Samudera mayoritasnya beragama islam.
4.6 Sarana dan Prasarana
Perangkat - perangkat organisasi Desa Puuk Kecamatan Samudera berdasarkan ketetapan instasi pemerintah sebagai orang - orang yang ditujuk sebagai penyambung kabar dan penyampaian aspirasi mesyarakat adalah sebagai berikut :
GEUCHIK
TGK IMUM SEKDES BENDAHARA TUHA 4
WAKIL TGK IMUM TUHA 8
KEPLOR 1 KEPLOR 2 KEPLOR 3 KEPLOR 4 KEPLOR 5
Dari gambar / skema karakter yang di pilih oleh masyarakat tersebut mempunyai tanggung jawab masing - masing . Hal ini bertujuan untuk mewujudkan keamanan.
Ketentraman dan memanfaatkan situasi yang terjadi serta mencari solusi yang baik saran pedesaan yang ada di Desa Puuk Kecamatan Samudera adalah: Kantor Desa dan Balai Desa, di jadikan sebagai satu ruang yang serba guna.
4.7 Pendidikan
Sedangkan bangunan pendidikan yang terdapat di Desa Puuk adalah Sekolah Dasar sebanyak 1 unit, Meunasah 1 unit, Balai Pengajian 3 unit.
Tabel 5. Bangunan pendidikan Desa Puuk Kecamatan Samudera Berdasarkan Tahun 2011:
No. Jenis Bangunan Unit
1.
2.
3. Balai pengajian
SD
Meunasah 3
1
1
Jumlah 5
Sumber: Kantor Kepala Desa Puuk Kecamatan Samudera
4.8 Penggunaan Lahan
Desa Puuk Kecamatan Samudera memiliki administrasi ± 70 Ha, dimana sebagian besar digunakan untuk budidaya, penangkapan, pertumbuhan, pertumbuhan mangrove dan permukiman.
Tabel 6. Penggunaan Lahan di Desa Puuk Kecamatan Samudera Berdasarkan Tahun 2011:
No. Penggunaan lahan Ha
1.
2.
3.
4. Budidaya
Penangkapan
Permukiman
Areal mangrove 12 Ha
35 Ha
20 Ha
3 Ha
Jumlah 70 Ha
Sumber: Kantor Kepala Desa Puuk Kecamatan Samudera
V. KEADAAN UMUM SUMBERDAYA PERIKANAN DAN KELAUTAN
5.1 Sumberdaya Perairan Pantai
Di Desa Puuk Kecamatan Samudera terdapat satu kuala yang dapat dilihat pada saat terjadinya pasang surut. Perairan pantai Di Desa Puuk Kecamatan Samudera merupakan suatu perairan yang terdapat rawa, mangrove, diantaranya perairan pantai ini digolongkan sebagian daerah intertidal dan estuerine. Dimana daerah tersebut pada musim-musim tertentu dapat berubah kondisi perairannya. pada daerah rawa atau kuala masyarakat pesisir memperoleh benih kerapu.
Pada daerah lamun masyarakat memanfaatkan sebagai tempat memperoleh udang dan kepiting. pada daerah mangrove masyarakat memanfaatkan untuk pengambilan batang mangrove yang digunakan untuk membuat tempat pemijahan ikan. Di daerah kuala masyarakat tersebut memanfaatkan sebagai daerah pemeliharaan ikan, seperti ikan kerapu dengan menggunakan keramba apung sebagai pendapatan sampingan. Perikanan adalah suatu usaha manusia untuk mendapat memanfaatkan sumberdaya hayati perairan untuk memperoleh hasil yang baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia. Peningkatan jumlah penduduk akan menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan akan protein nabati maupun protein hewani.
Panglima laut Desa Puuk Kecamatan Samudera mengatakan bahwa keadaan geografis di desa tersebut dipengaruhi oleh tiga musim, yaitu musim barat, musim timur, musim peralihan. Seperti biasanya pada musim peralihan kondisi perikanan dan kelautan dipenuhi oleh berbagai hasil perikanan dari jenis udang hingga ikan yang berprotein tinggi, seperti dari jenis udang putih ( Penaeus Sp ) hingga jenis ikan tuna ( Tunnus Sp ).
BAB VI
PERMASALAHAN
Permasalahan yang terjadi Desa Puuk Kecamatan Samudera secara umum adalah pencemaran, over fising. Bantuan pemerintah yang salah sasaran, sehingga Permasalahan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain tidak terselesaikan dan sering terjadi ricuh dan konflik akibat dari sumber permasalah tersebut.
6.1 Pencemar
Desa Puuk Kecamatan Samudera diakibatkan oleh pembuangan sampah. Hal ini dilakukan secara terang-terangan tanpa adanya bimbingan dan dorongan dan ancaman dari lembaga setempat. Akibat dari kegiatan tersebut dapat mengakibatkan daerah dan lingkungan tercemar serta organisme di daerah setempat terganggu.
Sumber daya perikanan harus direncanakan, dilaksanakan, dimonitoring, dan dievaluasi secara berkelanjutan, sehingga dapat memenuhi kepentingan pelestarian fungsi sumberdaya perikanan dan lingkungan hidup bagi kepentingan manusia, untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang ( Inter antar Generasi).
Berdasarkan atas karakteristik faktual dari undang-undang perikanan sebagaimana tersebut di atas, maka dalam rangka :
1. menjamin kelestarian dan keberlanjutan fungsi sumber-sumber daya perikanan,
2. Meningkatkan partisipasi masyarakat, transparansi, dan mendukung proses demokratisasi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan,
3. Menciptakan koordinasi dan keterpaduan antar sektor dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.
6.2 Sumberdaya Perikanan
Tabel 7. Penangkapan ikan tuna, teri, serta ikan lainnya di Desa Puuk Kecamatan Samudera pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2011:
No. Pemanfaatan Ton / Tahun
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12. Tahun 1999 - 2000
Tahun 2000 - 2001
Tahun 2001 - 2002
Tahun 2002 - 2003
Tahun 2003 - 2004
Tahun 2004 - 2005
Tahun 2005 - 2006
Tahun 2006 - 2007
Tahun 2007 - 2008
Tahun 2008 - 2009
Tahun 2009 - 2010
Tahun 2011 4103 Ton / Tahun
5010 Ton / Tahun
6207 Ton / Tahun
6500 Ton / Tahun
3251 Ton / Tahun
4526 Ton / Tahun
4600 Ton / Tahun
2040 Ton / Tahun
2601 Ton / Tahun
3320 Ton / Tahun
4332 Ton / Tahun
4400 Ton / Tahun
Sumber: Kantor Kepala Desa Puuk Kecamatan Samudera
Dari tabel diatas terlihat bahwa terjadinya penurunan penangkapan pada tahun 2007. Hal ini dikarenakan terjadinya pencemaran.
6.3 Budidaya
Budidaya adalah suatu usaha manusia untuk memanfaatkan sumberdaya hayati untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan juga menghasilkan hasil pemeliharaan dengan memenuhi target yang telah ditentukan . Masyarakat desa Puuk Kecamatan Samudera hanya sebagian saja melakukan budidaya ikan kerapu, padahal budidaya tersebut justru sangat membantu kebutuhan dan kecakupan kebutuhan sehari-hari.
Hal ini terpacu karena kurangnya perhatian pemerintah berupa bantuan di alokasikan kebanyakan salah sasaran. Pemanfaatan budidaya tersebut hanya dilakukan oleh penduduk Desa Puuk Kecamatan Samudera yang berkisar lima kepala keluarga. Akan tetapi mereka hanya mendapatkan benih peliharaannya langsung dari alam.
6.4 Pasca Panen
Suatu hasil dari pemeliharaan ( Input Output ) untuk dipasarkan dan melakukan pemanfaatan penjualan ke berbagai pedagang untuk memperoleh keuntungan yang disesuaikan.berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan petani nelayan di desa puuk kecamatan samudera pasca panen yang dilakukan oleh masyarakat disana berupa pengolahan kepiting. Kepiting tersebut di peroleh dari nelayan setempat kemudian di belikan oleh seorang pedagang kepiting tersebut dengan harga Rp.15.000.00,- sampai dengan Rp. 22.000.00,/kg.
Masyarakat disana mengandalkan sistem pemasarannya kepada pedagang pengumpul yang dari luar daerah, sedangkan pedagang setempat hanya ingin mencari keuntungan yang lebih. Tempat pemasaran tersebut berupa kios, ruko. bagi pengusaha yang ingin memanfaatkan daerah tersebut mesti memperhatikan keadaan lingkungan. Dan jika dilihat dari taraf pendidikan masyarakat disana sangat rendah dibandingkan dengan desa - desa lain hal ini dikarenakan ketidakmampuan untuk pembiyaan.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Dari hasil praktek ini yang dilakukan di Desa Puuk Kecamatan Samudera perlu dilakukan tindak lanjut dan masih dibutuhkan perhatian dari lembaga pemerintah .
7.2 Saran
Dari hasil praktek ini yang dilakukan di Desa Puuk Kecamatan Samudera perlu melakukan penelitian yang lebih lanjut guna untuk mengetahui sumberdaya penangkapan dan budidaya.
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Batas Wilayah Desa Puuk Kecamatan Samudera................................12
2. Jumlah Penduduk Desa Puuk Kecamatan Samudera..........................13
3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan..........................14
4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pencaharian......................................16
5. Bangunan pendidikan Desa Puuk Kecamatan Samudera...................17
6. Penggunaan Lahan di Desa Puuk Kecamatan Samudera...................21
Sabtu, 10 Desember 2011
KONDISI UMUM PERIKANAN DAN KELAUTAN DI KECAMATAN SAMUDERA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar